Ada yang saya pelajari (kembali) minggu ini, tentang mengeliminasi semua orang yang tidak ada kontribusi positif nya kedalam kehidupan saya kecuali masukan destruktif yang mereka suapi setiap kali kami bertemu. Rasa maklum saya terlalu besar terhadap mereka, sehingga kerap saya mewajarkan apa yang mereka lakukan terhadap saya, sampai suatu ketika saya sadar bahwa segala sesuatunya sudah tidak sehat untuk mental saya.
Saya mewajarkan sikap mereka yang mencari saya ketika mereka memerlukan saya, tapi disaat saya membutuhkan mereka, tiba-tiba saja mereka hilang ditelan arus kuat bumi. Saya mewajarkan sikap mereka yang kerap menghina saya lewat perbincangan berjudul “bercanda”, saya ikut tertawa ketika justru saya merasa dihakimi dan dipojokkan. Saya mewajarkan sikap mereka yang marah pada saya disaat apa yang terjadi bukanlah kesalahan saya, mereka hanya butuh seseorang untuk dijadikan kambing hitam.
saya mewajarkan semuanya, karena saya menganggap mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan pada saya adalah sebuah kesalahan. Tapi kemudian saya berpikir, bahwa mereka semua sudah termasuk kategori "tua umur" tapi pendewasaan belum mampir singgah di beranda hati mereka. Entah mereka yang keras hati atau memang mereka nyaman dengan pribadi yang melulu membawa dampak negatif ke sekeliling?
Akhirnya saya putuskan untuk memotong semua akses komunikasi, untuk menjaga kesehatan mental saya yang memang sakit. Saya ga mau dibebani hal yang datang dari orang lain. Saya kan juga manusia yang mau bahagia, gimana saya bisa bahagia kalau saya sendiri mengijinkan sikap dan perilaku mereka yang lupa bahwa saya seorang manusia, mempunyai hati.
Saya berdoa semoga Tuhan memberikan mereka kebahagiaan. Bukan kebahagiaan yang datangnya dari memanfaatkan kebaikan orang lain.
Salam sayang,

Komentar
Posting Komentar